Sabtu, 14 November 2009

Mengenal natrium,dan mengetahui dampak kekurangan dan kelebihannya

Atur Asupan Natrium Secara Cermat

Natrium atau sodium merupakan salah satu mineral penting bagi tubuh. Kadar natrium di dalam tubuh sekitar 2 persen dari total mineral. Tubuh orang dewasa sehat mengandung 256 gram senyawa natrium klorida (NaCL) yang setara dengan 100 gram unsur natrium. Kadar natrium normal pada serum 310 – 340 mg /dl.

Kebutuhan tubuh akan natrium telah banyak diteliti oleh ilmuwan yang bergerak di bidang Gizi dan kesehatan. Kebutuhan akan natrium per hari minimum 200 – 500 mg agar kadar garam dalam darah tetap normal, yaitu 0,9 persen dari volume darah di dalam tubuh.

Kurangnya konsumsi natrium dapat menyebabkan volume darah menurun yang membuat tekanan darah menurun, denyut jantung meningkat, pusing, kadang – kadang disetrai kram otot, lemas, lelah, kehilangan selera makan, daya ingat menurun, daya tahan terhadap infeksi menurun, luka sukar sembuh, gangguan penglihatan, rambut tidak sehat dan terbelah ujungnya, serta terbentuknya bercak – bercak putih di kuku.

Walaupun natrium memegang peran penting untuk kesehatan tubuh, namun konsumsi natrium yang berlebihan tetap harus dicegah karena dapat menimbulkan efek negatif. Banyaknya sumber natrium di alam menyebabkan kasus defisiensi natrium sangat jarang terjadi. Sebaliknya , kasus berlebihan konsumsi yang justru sering menjadi masalh . Karena itu, kita perlu mencermati pola makan agar terhindar dari dampak negatif kelebihan natrium.

Sumber Natrium

Bahan pangan, baik nabati maupun hewani, merupakan sumber alami natrium. Umumnya pangan hewani mengandung natrium lebih banyak dibandingkan dengan nabati. Namun, sumber utamanya garam dapur (NaCL). Soda kue (natrium bikarbonat), penyedap rasa monosodium glutamat (MSG), serta bahan-bahan pengawet yang digunakan pada pangan olahan, seperti natrium nitrit dan natrium benzoat. Natrium juga mudah ditemukan dalam makanan sehari – hari, seperti pada kecap, makanan hasil laut, makann siap saji (fast food), serta makanan ringan (snack). Umumnya makanan dalam keadaan mentah sudah mengandung 10 persen natrium dan 90 persen ditambahkan selama proses pemasakan.

Dewasa ini Fast Food sering mendapat sorotan di beberapa negara maju dan berkembang sebagai salah satu penyebab hipertensi terbesar. Dengan alasan kepraktisan dan kelezatan, makanan seperti humberger, pizza, hot dog telah menjadi primadona di masyarakat saat ini, padahal makanan-makanan tersebut bukanlah makanan yang baik untuk kesehatan.

Selain kadar lemak tinggi, makanan tersebut juga mengandung kadar natrium yang sangat tinggi, yaitu 2.275 mg per 100 gramnya. Berikut Kandungan natrium beberapa produk makanan :

No

Nama Bahan Makanan

Kadar Natrium (mg)

1

Garam

38.758

2

Builon blok

5.000

3

Kecap

4.000

4

Saus Tomat

2.100

5

Keju

1.250

6

Ham/Daging kornet

1.250

7

Sosis

1.000

8

Mentega/Margarin

987

9

Kraker Asin

710

10

Roti Bakar

700

Kebutuhan Natrium

National Research Council Of The National Academy Of Sciences merekomendasikan konsumsi natrium per hari sebanyak 1.100 – 3.300 mg. Jumlah tersebut setara dengan setengah sampai satu setengah sendok the garam dapur per hari. Untuk orang yang menderita hipertensi. Konsumsi natrium dianjurkan tidak lebih dari 2.300 mg per hari. Jumlah tersebut sama dengan 6 gram NaCl atau lebih kurang satu sendok teh garam dapur.

American Heart Association (AHA) merekomendasikan konsumsi Na bagi orang dewasa tidak lebih dari 2.400 mg / per hari, yaitu setara dengan satu sendok teh garam dapur sehari. Menurut United States Departement of Agriculture (USDA), rata-rata kebutuhan natrium ibu hamil sekitar 2.400 mg dalam sehari, kira – kira setara dengan satu sendok teh. Di beberapa negara, tingkat konsumsi natrium cenderung sangat tinggi. Tingkat konsumsi natrium di Amerika Serikat mencapai 4.000 – 5.000 mg / hari. tingginya konsumsi natrium di Amerika Serikat disebabkan tingginya konsumsi Fast food, sehingga hipertensi merupakan pembunuh paling mematikan

Di Jepang, konsumsi garam dapur sangat luar biasa, yaitu sekitar 25-35 gram/hari. Padahal, menurut ahli gizi, orang dewasa idealnya makan garam 6 gram sehari dan anak – anak hanya 3 gram per hari. Tingginya konsumsi garam di Jepang karena sebagian besar makanan berasal dari hewan laut, yang menyebabkan 84 % pria dewasa di jepang dipastikan menderita hipertensi. Di Indonesia seiring dengan meningkatnya dominasi pola makan ala barat, hipertensi kian menjadi masalah.

Dalam tubuh kita terdapat sistem otonom untuk mengatur keseimbangan kadar natrium di dalam darah. Jika kadar natrium terlalu tinggi, otak akan mengirimkan sinyal rasa haus dan mendorong kita untuk minum. Selain itu, jika sensor dalam pembuluh darah dan ginjal mengetahui adanya kenaikan tekanan darah dan sensor di jantung menemukan adanya peningkatan volume darah, ginjal dirangsang untuk mengeluarkan lebih banyak natrium dan air kencing, sehingga mengurangi volume darah. Jika kadar natrium terlalu rendah, sensor dalam pembuluh darah dan ginjal akan mengetahui bila volume darah menurun dan memacu reaksi rantai yang berusaha untuk meningkatkan volume cairan dalam darha. Kelenjar adrenal akan mengeluarkan hormon aldesteron, sehingga ginjal menahan natrium. Sementara itu, kelenjar hipofisa mengeluarkan hormon antidiuretik, sehingga ginjal menahan air.

Penahanan Natrium dan air menyebabkan kurangnya pengeluaran air kencing, yang pada akhirnya akan meningkatkan Volume darah dan tekanan darah kembali ke normal. Sensitivitas seseorang terhadap kadar natrium dalam darah berbeda-beda. Umumnya, semakin bertambah usia seseorang, semakin bertambah tingkat sensitivitasnya.

Ketentuan Klaim Tentang Natrium Di Dalam Bahan Pangan

Klaim

Persyaratan

Bebas natrium (Sodium Free)

Kadar na kurang dari 5 mg per saji

Sangat rendah natrium (very low sodium)

Kadar Na 35 mg atau kurang per saji

Rendah Natrium (Low Sodium)

Kadar Na 140 mg atau kurang per saji

Kurang natrium (reduced or less sodium)

Sedikitnya mengandung 25 persen lebih rendah dari jumlah Na yang biasa terdapat dalam produk pangan

Sedikit mengandung natrium (light in sodium)

Sedikitnya mengandung 50 % lebih rendah dari jumlah Na yang biasa terdapat dalam produk pangan

Bebas garam (salt free)

Kadar Na kurang dari 5 mg per saji

Makanan rendah Natrium (Low Sodium Meal)

Kadar Na 140 mg atau kurang per 100 gr

Tidak digarami (Unsalted or no added)

Selama pengolahan tidak ditambahkan garam, tetapi tidak berarti bebas Na karena masih mengundang Na yang secara alami terdapat dalam bahan pangan.

Fungsi Natrium

Mineral Natrium (Na) merupakan kation utama yang terdapat pada cairan ekstraselular, sedangkan Kalium (k) merupakan kation utama pada cairan intraseluler. Dengan demikian, mineral Na dan K memegang peran penting dalam mengatur keseimbangan cairan tubuh. Jika kedua mineral tersebut tidak berimbang, air akan mengalir ke dalam atau keluar sel untuk menjaga konsentrasi Na dan K agar tetap berimbang.

Unsur natrium sangat penting untuk penyerapan glukosa didalam ginjal dan usus, serta untuk pengangkutan zat – zat gizi lain melewati membran sel. Melalui asosiasinya dengan klorida (CL) dan bikarbonat. Na terlibat dalam pengaturan keseimbangan asam-basa, sehingga cairan tubuh berada pada kisaran Ph netral untuk mendukung metabolisme tubuh.

Sebagian besar natrium diserap oleh usus halus dan hanya sedikit yang diserap oleh lambung. Dari usus, natrium dialirkan oleh darah ke hati, kemudian ke ginjal untuk disaring dan dikembalikan ke darah dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Regulasi metabolisme natrium oleh ginjal dikontrol oleh aldesteron, yaitu hormon yang disekresikan oleh kelenjar adrenal. Apabila konsumsi natrium rendah atau kebutuhan tubuh meningkat dan ginjal lebih banyak mentyerap kembali (reabsorsi) natrium. Hal sebaliknya terjadi jika konsumsi natrium berlebihan.

Salah satu perannya yang paling esensial adalah untuk menjaga keseimbangan osmotik atau keseimbangan osmotik atau keseimbangan aliran cairan di dalam tubuh.

Selain itu, natrium juga mempunyai peran penting untuk merangsang saraf serta membantu sel – sel untuk metabolisme zat gizi esensial lainnya.

Bersama – sama dengan kalium, natrium juga mempunyai peran untuk menjaga fungsi dan kerja otot jantung, serta mencegah penyakit-penyakit berbahaya seperti ganbgguan saraf, bagi ibu hamil, natrium berperan meningkatkan kerja jantung, memompa darah agar dapat memenuhi kebutuhan sang ibu dan janin.

Kalium

Kalium (Potasium) merupakan ion utama di dalam cairan intraseluler. Cara kerja kalium berkebalikan dengan natrium, yaitu menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah. Pada masa kehamilan. Pada masa kehamilan kalium bekerja sama dengan natrium untuk menjaga keseimbangan elektrolit di dalam tubuh yang mengalami peningkatan volume cairan tubuh hingga 50 %. Dengan demikian, konsumsi natrium perlu diimbangi dengan kalium.

Rasio konsumsi natrium dan kalium yang dianjurkan adalah 1 : 1, sumber kalium yang baik adalah buah-buahan seperti pisang dan jeruk. Secara alami, kadar kalium dalam bahan pangan lebih tinggi daripada kadar natrium. Namun, proses pengolahan pangan yang banyak menambahkan garam menyebabkan kadar natrium menjadi lebih tinggi.

Sebagai contoh, rasio kalium terhadap natrium pada tomat segar adalah 100 : 1, kemudian menjadi 10 : 6 pada tomat kaleng, dan 1 : 28 pada saus tomat. Contoh lain adalah rasio kalium terhadap natrium pada kentang bakar 100 : 1, kemudian menjadi 10 : 9 pada keripik dan 1:17 pada salad kentang.

Seperti halnya natrium, kadar kalium didalam darah juga perlu diatur. Konsentrasi kalium yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan masalah serius, seperti irama jantung abnormal atau henti jantung. Kalium yang disimpan di dalam sel membantu memelihara konsenttrasi kalium dalam darah tetap konstan.

Keseimbangan kalium dijaga dengan menyesuaikan jumlah asupan kalium yang berasal dari makanan dan jumlah kalium yang dibuang ke luar tubuh.

Sebagian besar kalium. Sebagian besar kalium dibuang melalui air kencing, walaupun ada yang melalui tinja dan keringat. Dalam keadaan normal, ginjal menyesuaikan pembuangan kalium agar seimbang dengan asupan dari makanan.

Sumber : Prof. DR Made Astawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar